Sketsa Pemikiran Politik Islam

Buku yang berjudul Sketsa Pemikiran Islam ini merupakan karya salah satu dosen terbaik Ilmu Politik FISIP Universitas Siliwangi yang diterbitkan oleh deepublish. Dalam sinopsis yang ditulis dalam web resminya bercerita bahwa Tema-tema dalam buku ini merupakan pengembangan dari diskusi dan diskursus mengenai pemikiran politik dalam Islam di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Kajian perkembangan pemikiran politik dalam Islam yang sampai di keharibaan pembaca adalah berusaha mengemukakan konsepsi dasar yang bersifat universal dan substansial yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bermakna bagi kehidupan politik kenegaraan dewasa ini. Atau paling tidak, dapat memberikan gambaran betapa energiknya pemikir-pemikir muslim itu dalam usahanya merumuskan konsep-konsep ideal dalam kehidupan bernegara. Sistem politik saat ini sangat didominasi oleh sistem politik Barat. Konsep nation state seakan menjadi sistem politik mainstream, dominan dan tak tergoyahkan. Padahal sistem ini baru muncul setelah Barat mencapai masa kebangkitan (aukflarung) pada sekitar abad ke-17 Masehi dan established setelah Turki mengalami kekalahan pada Perang Dunia I (1918).

Sejarah tidak bisa menutup mata bahwa sebelumnya terdapat sistem politik yang mendominasi dunia selama kurang lebih 13 Abad lamanya (630-1924). Sistem politik tersebut adalah politik Islam. Islam sebagai kekuatan politik telah menjadi penguasa Dunia (super power) terlama dalam sejarah perpolitikan manusia. Di samping itu, Islam juga telah mewariskan pemikiran (filsafat) politik yang tak ternilai harganya. Warisan pemikiran politik Islam kalau disederhanakan bisa dibagi menjadi tiga klasifikasi. Pertama, pemikiran yang menganggap bahwa agama dan negara tidak bisa dipisahkan, Islam adalah akidah, ibadah, muamalah, dan semua aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya masalah politik. Tokoh yang mewakili kelompok ini adalah seperti al-Maududi, Hasan al-Banna dan lain sebagainya.

Kedua, pemikiran yang menganggap bahwa agama harus terpisah atau tidak memiliki hubungan dengan politik. Pemikiran ini adalah pemkiran sekuler yang dalam tradisi Barat Kristen kita mengenal ungkapan “berikan yang menjadi hak raja, dan berikan pula yang menjadi hak gereja”. Kelompok ini diwakili oleh Ali Abd. al-Raziq. Kelompok ketiga yang mencoba mensintesiskan antara kelompok pertama dan kedua yaitu yang menganggap bahwa tidak benar Islam meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, tetapi tidak benar pula, apabila Islam dikatakan tidak sama sekali mengatur urusan dunia, termasuk di dalamnya urusan politik. Kelompok ini diwakili oleh Muhammad Husain Haikal. Pemikiran sebagian Tokoh tersebut yang coba diulas dalam buku ini. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan oleh peserta Program Pascasarjana angkatan 2005/2006.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *