Seminar Nasional dan Call for Paper “Kebangsaan dan Transformasi Sosial Politik di Indonesia”

Upaya membangun bangsa yang unggul mengalami berbagai tantangan yang terjadi saat realitas sosial mengalami banyak perubahan, atas dasar itu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Siliwangi membuat suatu kegiatan berupa Seminar Nasional dan Call for Paper yang mengungkapkan tema “Kebangsaan dan Transformasi Sosial Politik di Indonesia”, kegiatan tersebut dilakukan di Ruang Seminar Rektorat Universitas Siliwangi. Pemateri dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh Engkus Sutisna, S.T., M.T (Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik), Dr. Iding Rosyidin, S.Ag., M.Si sebagai Ketua Asosiasi Program Studi Ilmu Politik Indonesia (APSIPOL), Joash Elisha Stephen Tapiheru, S.IP., M.A., Ph.D sebagai Dosen Politik dan Pemerintah Universitas Gadjah Mada. Peserta yang hadir dari berbagai kelompok masyarakat di Indonesia, seperti mahasiswa, dosen, biroktat, maupun masyarakat umum. Pelaksanaan Call for Paper membahas delapan sub-tema yakni nasionalisme dan identitas digital, demokrasi, HAM dan kesejahteraan sosial, politik lokal, pembangunan berkelanjutan, pemilihan umum dan partai politik, Islam dan Kepesantrenan, reformasi birokrasi, dan geopolitik. Pelaksanaan Call for Paper dilakukan secara offline dan online yang dihadiri dari berbagai Universitas di Indonesia. Kegiatan ini merupakan upaya untuk menegaskan Visi dan Misi Universitas Siliwangi yang berorientasi kebangsaan.

Seminar Nasional dengan tema “Kebangsaan dan Transformasi Sosial Politik di Indonesia” menunjukkan pentingnya bekerja sama lintas sektor (pemerintah, masyarakat, sektor korporasi, dan akademisi) untuk meningkatkan patriotisme dan beradaptasi dengan iklim politik dan sosial saat ini. Motivasi untuk membuat dampak lokal pada pembangunan berkelanjutan adalah ide lain yang harus diserap. Harus ada perubahan pola pikir ke arah penggunaan media sosial yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan di tingkat kota.

Nina Herlina, Dra., M.T (Dekan FISIP UNSIL) menyatakan kebangsaan bukan hanya persoalan salah satu program studi atau fakultas di Universitas Siliwangi, akan tetapi menjadi tanggung jawab seluruh komponen yang ada di Universitas Siliwangi. Kemudian, Dr. Nundang Busaeri, M.T (Rektor Universitas Siliwangi) mencatat bahwa keyakinan agama merupakan bagian integral dari identitas Indonesia dan tidak dapat diabaikan demi kemakmuran dan kelangsungan hidup bangsa. Selain itu, Dr. Nundang Busaeri, M.T. mengharapkan bahwa kemajuan teknologi pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi kemajuan bangsa dan negara.

Engkus Sutisna, S.T., M.T menyatakan Indonesia maju tahun 2045 perlu memenuhi tiga syarat yakni demokrasi damai dan kondusif, ekonomi, dan millenial yang kompetitif. Jika Indonesia serius ingin masuk jajaran negara industri, maka harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Jalan menuju kehancuran peradaban adalah menghindari konflik yang tidak dapat dimenangkan, ketidakpuasan yang tidak dapat ditahan, banyak hasutan, perbedaan yang meningkat, dan penanaman kebencian.

Dr. Iding Rosyidin, S.Ag., M.Si berpendapat bahwa ada keuntungan dan kerugian perubahan sosial dan politik tergantung pada faktor-faktor seperti struktur negara, koneksi pusat-daerah, tingkat liberalisasi politik, dan pelembagaan pemerintah. Mengembangkan rasa berwawasan kebangsaan merupakan salah satu pendekatan terhadap tantangan perubahan sosial dan politik yang berbasis pada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Ajaran Agama, Norma Masyarakat, dan Undang-Undang ITE. Hal tersebut menandakan adanya urgensi literasi untuk disebarluaskan pada setiap lapisan masyarakat di Indonesia.

Joash Elisha Stephen Tapiheru, S.IP., M.A., Ph.D menyatakan pembahasan tentang “rasa kebangsaan” ini patut kita perhatikan secara lebih cermat dan kritis. Ada sejumlah poin yang patut kita perhatian dari artikulasi dan konteks di mana artikulasi “rasa kebangsaan” ini terjadi. Pertama, sebagian besar artikulasi “rasa kebangsaan” atau “membangun dengan hati” atau istilah lain yang kurang lebih setara merujuk pada pentingnya kesamaan rasa di antara sekelompok masyarakat dengan beragam karakteristik dan latar belakang yang dilakukan dalam konteks untuk “menandai” sesuatu yang dibutuhkan tetapi tidak ada, kurang, atau terancam memudar. Kedua, dalam konteks yang sama, aspek rasa ini cenderung dipahami sebagai sesuatu yang semata-mata bersifat kognitif; formalistik; dan esensialis. Yang terakhir ini membuat artikulasi rasa kebangsaan yang dominan tidak sensitif terhadap aspek afektif yang sebetulnya lebih dominan membentuk “rasa” tersebut.

Kegiatan seminar nasional ini merupakan bentuk dari pengamalan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sebagai perguruan tinggi yang berupaya merawat nilai-nilai kebangsaan, sebagai unsur penting menuju peradaban yang bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.