Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Category: Covid19

  • 5 Langkah Mudah Mencegah Nyeri Punggung Akibat WFH dan Kelas Online

    5 Langkah Mudah Mencegah Nyeri Punggung Akibat WFH dan Kelas Online

    Tahukah kamu, 81% responden dalam sebuah survei terhadap orang yang bekerja jarak jauh mengalami nyeri punggung, leher, atau bahu. Hampir setengahnya juga mengatakan bahwa mereka kurang aktif secara fisik dibandingkan sebelum lock down atau karantina di masa pandemi. Studi lain dari Institute for Employment Studies menemukan, sebanyak 35% responden baru mengalami sakit punggung saat mulai bekerja dari rumah.

    Di Amerika Serikat, melalui survei Facebook bulan April dari American Chiropractic Association, sebesar 92% ahli tulang (dari 213 responden) mengatakan bahwa pasien melaporkan lebih banyak sakit leher, sakit punggung, atau masalah muskuloskeletal lainnya sejak anjuran bekerja dan belajar dari rumah diberlakukan. Bahkan, tanpa perawatan yang tepat, 20% penderita nyeri yang dianggap sepele ini bisa mengalami gejala terus-menerus dalam setahun. Sebenarnya, apa penyebab nyeri punggung?

    Penyebab nyeri punggung

    Banyaknya waktu yang kita habiskan dengan duduk menatap layar komputer untk mengikuti kelas online atau bekerja dari rumah tentu menjadi salah satu penyebab munculnya nyeri punggung. Nah, selain karena berkurangnya aktivitas fisik, hal-hal ini juga bisa menjadi penyebab nyeri punggung, loh!

    Pengaturan ruang kerja yang kurang baik

    Nggak semua orang senang bekerja di meja. Ini juga menyebabkan nggak semua orang punya meja dan kursi yang “layak pakai” untuk bekerja dalam waktu yang lama. Kamu mungkin menggunakan meja pendek di ruang keluarga dengan kursi yang terlalu tinggi, duduk di sofa dan meletakkan laptop di paha, atau memilih untuk bekerja di tempat tidur dengan meja lipat.

    Menggunakan barang-barang yang tidak sesuai fungsi aslinya (dalam hal ini bukan untuk bekerja) menciptakan kondisi ruang kerja yang tidak ergonomis. Ini membuat tulang belakang tidak tersangga dengan baik atau malah mengharuskanmu untuk membungkuk.

    Bertambahnya berat badan

    Melakukan berbagai aktivitas di rumah juga memudahkan kita untuk “mengakses” makanan yang tersedia di rumah. Ditambah dengan terbatasnya aktivitas fisik, 48% orang mengalami pertambahan berat badan selama karantina di rumah. Lemak berlebih yang tersebar di bagian tengah tubuh pun dapat berujung pada nyeri punggung.

    Hmm, dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi nyeri punggung tersebut?

    Ini dia rangkuman tips yang bisa kamu terapkan untuk mencegah nyeri punggung di masa pandemi:

    Atur ruang kerja dengan baik

    Yuk, ganti kursi kerjamu dengan kursi yang lebih nyaman dan sesuai. Pastikan punggungmu tidak perlu membungkuk dan pergelangan tanganmu tidak menggantung saat mengetik. Gunakan bantal untuk menopang tulang belakang, pastikan kakimu menyentuh lantai, dan posisikan layar komputer agar bisa terlihat seluruhnya (tidak terlalu atas ataupun bawah)

    Cobalah bekerja sambil berdiri

    Kamu mungkin kerap melihat perkantoran yang memiliki meja tinggi di mana para pekerjanya bisa bekerja tanpa kursi alias sambil berdiri. Cara ini bisa kamu terapkan di rumah juga, loh! Apabila kamu tidak punya meja yang tinggi, kamu bisa mengatur buku dan meja kerjamu agar bisa digunakan sambil berdiri. Pastikan siku dan pergelangan tanganmu berada pada sudut 90 derajat saat mengistirahatkan lengan untuk mengetik atau menggerakkan mouse komputer

    Perbaiki postur dudukmu

    Meskipun ruang kerjamu sudah ergonomis, postur duduk yang salah juga berpengaruh terhadap nyeri punggung. Biasakan dirimu untuk duduk tegap dan tidak membungkuk

    Cobalah untuk melakukan pekerjaan atau aktivitas lain sambil bergerak

    Selain berdiri, saat kamu mengikuti webinar yang santai atau berbicara dengan teman lewat telpon, kamu bisa berjalan-jalan mengitari ruang kerja atau bahkan naik turun tangga. Intinya, jangan hanya duduk terus menerus, ya!

    Lakukan peregangan

    Latihan seperti back crunch, leg raise, dan sit-up memperkuat punggung dan mendukung tulang belakangmu lebih baik. Kamu juga bisa mencoba peregangan sederhana yang bisa dilakukan menggunakan meja (desk exercise) lewat latihan yang disediakan Chartered Society of Physiotherapy berikut ini.

    Nah, semoga langkah-langkah di atas bisa membantumu mencegah nyeri punggung, ya!

    Kontributor: Caroline Aretha M.

    Referensi:

    BBC (2021). Covid-19: Five ways to avoid lockdown back pain. Diakses melalui https://www.bbc.com/news/uk-55660362 pada 14 Februari 2021.

    Core Strength Studios (2020). Why Do I Have Back Pain After Lockdown? Diakses melalui https://www.corestrengthstudios.co.uk/why-do-i-have-back-pain-after-lockdown/ pada 14 Februari 2021.

    Narayana Health (2020). Lower Back Pain During Lockdown: Fixing Your Back Problems. Diakses melalui https://www.narayanahealth.org/blog/lower-back-pain-during-lockdown-how-to-fix/ pada 14 Februari 2021.

    UT Southwestern Medical Control. Diakses melalui https://utswmed.org/medblog/work-from-home-coronavirus-back-neck-pain/ pada 14 Februari 2021.

    Sumber : Berita Covid19 ITB

  • Jadi Tren Fashion, Ini Cara Memakai Mask dengan Benar!

    Jadi Tren Fashion, Ini Cara Memakai Mask dengan Benar!

    Beberapa waktu terakhir, penggunaan strap mask atau tali masker menjadi marak di kalangan masyarakat. Dengan desain imut atau elegan, beragam variasi strap mask dengan warna-warna menarik berhasil memikat anak-anak, remaja, maupun dewasa muda. Tak bisa dipungkiri, strap mask yang bisa digunakan baik oleh pria maupun wanita kini menjadi aksesori wajib dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.  Tahukah kamu, tren ini memiliki pengaruh positif maupun negatif, loh. Sebelum kita bahas lebih jauh, yuk, kenalan dulu sama strap mask!

    Ada dua macam model strap mask yang banyak beredar di pasaran

    Yang pertama bisa disebut sebagai konektor headloop atau adjustable strap maskStrap mask ini memiliki pengaturan di mana penggunanya bisa menyesuaikan panjang tali sesuai ukuran kepala pengguna. Jadi, masker bisa dipastikan menutupi bagian hidung, mulut, dan dagu dengan rapat. Strap mask jenis ini biasanya digunakan oleh anak-anak atau para wanita yang menggunakan hijab. Sesuai namanya, strap mask ini digunakan dengan cara disangkutkan pada rambut yang diikat dan memutar ke belakang kepala.

    Jenis kedua adalah kalung masker atau strap mask biasa yang panjangnya skitar 50 cm—70 cm. Yup, ada perbedaan ukuran strap mask untuk anak-anak atau orang dewasa. Strap mask jenis kedua ini digunakan oleh siapa saja dengan cara dikalungkan. Kalau kamu pengguna kacamata, kamu tentu familiar dengan model strap mask kedua yang persis seperti strap glasses

    Sisi positif dari tren penggunaan strap mask

    Anak-anak muda yang tak mau ketinggalan tren fashion ikut membeli strap mask sebagai pemanis masker mereka. Dengan tingginya minat masyarakat untuk menggunakan strap mask, penggunaan masker itu sendiri juga meningkat, loh! Hal ini tentu berdampak pada pencegahan penyebaran virus korona. Strap mask juga meningkatkan kenyamanan bagi penggunanya. Misalnya, ada kasus di mana seseorang mengalami lecet di kulit telinga akibat mengikat tali masker dengan kencang agar masker rapat. Dengan stap mask model konektor headloop, hal ini bisa diatasi. Selain itu, strap mask mencegah masker terlepas, terjatuh, dan hilang.

    Lalu, kenapa strap mask tidak dianjurkan oleh Satgas COVID-19? 

    Meskipun memiliki dampak positif, ada beberapa hal yang jadi kesalahan dalam pemakaian strap mask. Malahan, hal-hal ini bisa jadi pemicu tersebarnya virus korona. Seperti yang kita tahu, masker yang dikaitkan dengan strap biasanya dilepas saat makan bersama dan dibiarkan menggantung di dada. Saat itu, bagian dalam masker terekspos secara bebas dan tentu saja rawan akan kontaminasi. Droplet dari orang yang bicara, batuk, atau bersin di dekat kita berisiko menempel di area dalam masker. 

    Selain itu, dikutip dari Kompas.com, ada risiko masker menempel ke pakaian dan terjadi kontaminasi silang. Di sisi lain, droplet yang tertinggal di masker saat pengguna bicara, batuk, atau bersin dapat menyebar dan terhirup orang lain yang juga sedang melepas masker.

    Jangan bingung, ini cara menyimpan masker dengan benar saat tidak digunakan!

    Ketika kamu harus melepas masker untuk makan, siapkan plastik atau wadah khusus untuk menyimpan masker sementara. Kamu bisa menggunakan kantung kertas atau kain berjaring (mesh). Kalau baju atau celanamu punya kantong yang bersih dan tidak diisi apa pun, kamu juga bisa menyimpan masker di sana. Intinya, jangan pernah membiarkan masker menggantung di dada karena malah akan mengurangi higienitas dari masker. 

    Kamu juga sebaiknya tidak melakukan hal-hal berikut saat harus melepas masker karena bagian tubuh ini tidak terlindungi dan berpotensi mengontaminasi masker:

    • menggantung masker di leher
    • menaikkan masker di dahi
    • menggantung masker di salah satu telinga

    Buat kamu yang malahan lebih sering menggantungkan masker di dada dibanding memakainya, mari ubah kebiasaan itu dari sekarang! Menggunakan strap mask sebagai aksesoris dan bagian dari fashion itu boleh saja, asalkan tetap kamu gunakan dengan benar. Yuk, tetap pakai masker dengan benar untuk melindungi diri sendiri dan orang lain!

    Kontributor: Caroline Aretha M.

    Referensi:

    Banyak Dipakai, Ini Plus Minus Strap Masker yang Perlu Diketahui. Diakses melalui https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/12/134837865/banyak-dipakai-ini-plus-minus-strap-masker-yang-perlu-diketahui?page=all pada 28 Februari 2021.

    Video: Satgas Ingatkan Bahaya Penggunaan Tali Masker. Diaskes melalui https://katadata.co.id/diniapriliana/video/6039078d156b8/video-satgas-ingatkan-bahaya-penggunaan-tali-masker pada 28 Februari 2021.

    Sumber : Berita Covid19 ITB

  • Waspadai Sulit Tidur Sebagai Gejala Jangka Panjang COVID-19

    Waspadai Sulit Tidur Sebagai Gejala Jangka Panjang COVID-19

    Seperti yang telah diketahui, penyintas COVID-19 masih merasakan gejala jangka panjang yang dapat bervariasi. Studiterbaru menunjukkan bahwa salah satu gejala panjang yang dirasakan setelah seseorang terinfeksi merupakan kesulitan tidur. Kesulitan tidur ini, atau dikenal dengan istilah insomnia, merupakan kondisi dimana seseorang menjadi terjaga setiap malam atau mudah terbangun dan sulit untuk kembali tidur. Efek lain yang ditimbulkan dari insomnia ini diantaranya stress, kurang konsentrasi, lemas, lesu serta gangguan mood.

    Penelitian yang dilakukan pada pasien di Wuhan, Cina oleh Bin Cao menyatakan bahwa lelah. lemah otot serta sulit tidur menjadi gejala yang paling umum ditemukan. Penelitian ini melibatkan 1.733 pasien COVID-19 yang telah dinyatakan sembuh serta dipulangkan dari rumah sakit Jinyintan selama Januari hingga Mei tahun lalu. Fokus penelitian yang dilakukan terletak pada kebutuhan perawatan berkelanjutan bagi pasien setelah dipulangkan, terutama bagi para penyintas yang telah mengalami infeksi parah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76% pasien menyatakan masih memiliki gejala. Dalam kasus kelelahan atau lemah otot, sebanyak 63% pasien menyatakan memiliki kondisi tersebut, dengan 26% diantaranya mengalami kesulitan tidur.

    Selain itu, ditemukan bahwa pengujian antibodi pada 94% pasien memberikan penurunan kadar antibodi sebesar 52,5% yang menimbulkan kekhawatiran adanya reinfeksi COVID-19. Penelitian dalam skala lebih besar diperlukan untuk mengklarifikasi fenomena kekebalan terhadap virus seiring dengan waktu. Hingga saat ini, masih terdapat sedikit laporan terkait gambaran klinis setelah seseorang terinfeksi COVID-19, ungkap peneliti dari Italia Instituto di Richerche Farmacologiche Mario Negri.

    Apa yang dapat dilakukan seseorang untuk mengatasi gejala insomnia ini?

    Dilansir dari CNN berdasarkan Metro UK, berikut merupakan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi susah tidur sebagai berikut:

    Memperoleh cahaya alami

    Usahakan untuk keluar rumah ketika matahari terbit, dan buka jendela saat bekerja dari rumah. Paparan cahaya alami selama beberapa menit dapat mengirimkan sinyal kepada tubuh untuk “bangun tidur”

    a. Pisahkan waktu kerja dan waktu tidur

    Tetapkan jam kerja agar tidak melebihi waktu jam kerja dan jam tidur yang telah ditentukan. Usahakan untuk mematuhi jam kerja yang sudah ditetapkan

    b. Atur jam malam dengan ponsel atau smartphone

    Atur jam malam menggunakan ponsel dan laptop. Melalui cara ini, pikiran Anda akan tenang sebelum tidur

    c. Jam makan yang teratur

    Mematuhi jam makan dapat menjaga sinyal tidur alami tubuh untuk tetap pada jalurnya. Hindari konsumsi kopi serta stimulant lainnya yang dapat menimbulkan kewaspadaan dan membuat tidur menjadi lebih susah

    d. Kurangi penyebab stress

    Pastikan Anda memiliki hal atau teknik untuk dilakukan ketika dihadapi dengan stress atau kecemasan. Hal ini dapat dilakukan dengan Latihan pikiran, teknik pernapasan, serta berbagi cerita dengan orang lain.

    Kontributor: Addina Shafiyya Ediansjah
    Sumber : Berita covid19 ITB